وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2011

Bagaimana sikap seorang muslim terhadap perayaan tahun baru masehi ???

                Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam, keluarga, sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in serta kepada umatnya yang senantiasa berjalan diatas petunjuk beliau hingga akhir zaman.

                Merayakan tahun baru masehi merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya ditengah masyarakat. Bahkan sebagian orang telah mempersiapkan segala sesuatunya beberapa hari sebelum datangnya malam tahun baru masehi tersebut, mulai dari membuat makanan nasi tumpeng, terompet, kembang api dan lain sebagainya. Inilah fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Namun apakah dengan banyaknya orang yang merayakan, hal tersebut dilegalkan dan dibenarkan dalam kacamata islam? Lantas bagaimanakah sikap seorang muslim terhadap perayaan tahun baru masehi ini ???

Selasa, 08 November 2011

Sunnah dan Syiah Bersatu? Mungkinkah?!

Segala puji yang sebenar-benarnya milik Alloh . Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi yang tiada nabi setelahnya, kelurganya, para sahabatnya serta orang-orang yang seanantiasa mengikuti petunjuknya.

Ketahuilah, semoga Allah menjagamu dari berbuat jahil dan dari kejahilan orang-orang yang jahil. Saudariku telah ada di tengah-tengah kita orang-orang yang jahil yang menyeru kepada  pendekatan antara sunni-syiah. Sungguh bodoh apa yang mereka serukan, hal ini bak menyatukan susu dengan racun, takan ada satupun yang mau meminumnya. Mana mungkin seorang ahlussunnah yang beraqidah hanif akan bersatu dengan ahlu bid’ah beraqidah rusak.

Saudaraku, semoga Alloh memberikan petunjuk kepadamu untuk taat kepada-Nya. Risalah singkat ini saya salin dari salah satu bab dalam Syarah Ushulus Sunnah Imam ahmad bin Hanbal yang disarah oleh Syaikh walid Bin Muhammad Nubaih. Dalam risalah ini akan dibahas tentang kesesatan Syiah, Perbandingan antara Syiah dan ahlu kitab serta Bantahan terhadap mereka yang menyeru kepada pendekatan sunni-syiah.

Kesesatan Syiah
Imam Ahmad bin hanbal berkata dalam ushulus sunnah pada pon ke-44, “Barangsiapa yang mencela salah seorang sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam atau membencinya karena suatu kesalahan darinya, atau menyebutkan kejelekan-kejelekannya, maka dia adalah seorang ahlu bid’ah, (dan dia akan tetap seorang ahlu bid'ah) hingga dia menyayangi mereka semua dan hatinya bersih dari (sikap membenci atau mencela) mereka.”

Dalilnya adalah sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam,
Artinya : “Janganlah kamu sekali-kali mencela sahabat-sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku ditangan-Nya, kalau seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya tidak akan mencapai (pahala infaq) segenggam (1 mud) salah seorang diantara mereka tidak juga setengahnya". [Dikeluarkan oleh Bukhary 3/3673, dan Muslim 6/ Juz 16 hal 92-93 atas Syarah Nawawy]

Apabila kamu telah mengetahui hal itu maka menjadi jelas bagimu penyimpangan dan kesesatan yang ada pada orang-orang rafidhoh (salah satu firqoh syiah), dimana mereka telah mencela dan melaknat para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan hati-hati mereka telah terpenuhi kedengkian terhadap mereka (para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam), dan mereka berpendapat bahwa khilafah dan kepemimpinan itu tidak ada melainkan pada keluarga Ali (bukan kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman ridhwan allahu ajmain).

Pernah ada seorang laki-laki menyebutkan kejelekan ‘aisyah rodhiallohu ‘anha (dengan menuduhnya berzina) di hadapan Utbah bin ‘Abdulloh al hamdani al qadhi, maka ia (utbah) berkata kepada seorang pemuda, “wahai ghulam (panggilan untuk anak muda dalam bahasa arab) penggellah lehernya!” Maka orang-orang ‘alawiyyun (keturunan Ali) berkata kepadanya, “orang laki-laki ini termasuk golongan kami (dari syiah).” Lalu Utbah berkata, “Aku berlindung kepada Alloh, orang ini telah menikam kehormatan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Alloh berfirman :

“wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An Nur: 26)

(Ayat ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik Maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.)

Apabila ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha adalah wanita yang keji maka Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam adalah laki-laki keji. Maka ia (orang yang menuduh ‘aisyah dengan kekejian) adalah orang kafir, maka penggallah lehernya, lalu merekapun memenggal lehernya.” [al laalika’i :2402]

Imam Asy Syafi’i berkata, “tidaklah aku melihat dalam perkara hawa nafsu suatu kaum yang lebih sering bersaksi palsu daripada orang-orang rafidhoh.” [al laalika’i:2811]

Perbandingan Syiah dan Ahlu Kitab
Diriwayatkan dari asy sya’bi, ia berkata, “wahai Malik (maksudnya Malik bin Mighwal al Kufi, Abu ‘Abdillah tsiqotun (terpecaya) tsabtun (kuat), jama’ah ulama meriwayatkan darinya], sekiranya aku menginginkan agar mereka (orang-orang rafidhoh) memberikan budak-budak mereka padaku dan memenuhi rumahku dengan emas agar supaya aku berdusta untuk mereka atas Ali, niscaya mereka melakukannya. Akan tetapi, Demi Alloh aku tidak akan berdusta atasnya selamanya. Wahai Malik, sesungguhnya aku telah mempelajari perkara-perkara hawa nafsu semuanya, namun aku tidak melihat suatu kaum yang mana mereka lebih dungu dari Kasyabiyyah (salah satu sekte syiah). Seandainya mereka tergolong binatang, maka sungguh mereka adalah keledai-keledai. Dan seandainya meeka tergolong binatang burung, maka sungguh mereka itu burung-burung rakhom (jenis burung yang terkenal memiliki sifat ingkar janji atau sifat kotor)” [An Nihayah, karya Ibnul Al Atsir: (2/212)]

Dan ia berkata: Aku peringatkan kamu dari hawa nafsu-nafsu yang menyesatkan, dan seburuk-buruknya adalah rafidhoh. Hal itu karena ada diantara mereka orang-orang yahudi yang mencela agama islam agar kesesatan mereka menjadi hidup, sebagaimana (bagi orang-orang Yahudi dan nasrani) Bulis bin Syaul (atau syawudz) mencela seorang raja. Mereka itu tidaklah masuk islam dikarenakan rasa cinta dan takut kepada Alloh, akan tetapi dikarenakan kebencian dan celaan mereka kepada orang-orang muslim. Sehingga Ali bin abi tholib rodhiallohu ‘anhu membakar mereka dengan api dan mengasingkan mereka ke beberapa negeri. Diantaranya: ‘abdulloh bin saba diasingkan ke negeri sabath, ‘abdulloh bin syabab dan abu al kurusy serta anaknya diasingkan ke negeri jazat. Itu karena ujian orang-orang rafidhoh adalah (sama seperti) ujian orang-orang Yahudi (bagi kaum muslimjin):

  1. Orang-orang yahudi berkata, “Kerajaan itu tidak layak kecuali bagi keluarga Dawud.” Dan Orang-orang rafidhoh mengatakan, “kepemimpinan itu tidak layak kecuali bagi keluarga Ali.”
  2. Orang-orang yahudi berkata, “Tidak ada jihad fi sabilillah (di jalan Alloh) samapi Al Masih Dajjal keluar atau Nabi Isa turun dari langit.” Sedangkan orang-orang rafidhoh mengatakan, “Tidak ada jihad sehingga Imam Mahdi keluar kemudian ada yang mengumandangkan jihad dari langit”
  3. Orang-orang Yahudi mengakhirkan sholat maghrib sampai bintang-bintang menjadi jelas cahayanya. Demikian pula halnya rafidhoh. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “umatku senantiasa dalam keadaan fitrah selama mereka tidak mengakhirkan sholat maghrib hingga bintang-bintang menjadi terang cahayanya.” [shohih, lihat Al irwa’ (917)]
  4. Orang-orang Yahudi sedikit berpaling dari arah kiblat. Demikian pula halnya orang-orang rafidhoh.
  5. Orang-orang yahudi memanjangkan pakaiannya (dibawah mata kaki). Demikian pula rafidhoh. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah melewati seseorang yang memanjangkan pakaiannya (dibawah mata kaki), lalu beliau menjadikannya berepakaian diatas mata kaki.
  6. Orang-orang Yahudi merubah kitab taurot. Demikian pula orang-orang rafidhoh, mereka telah merubah al Qur’an.
  7. Orang-orang Yahudi berpendapat wanita tidak memiliki masa ‘iddah. Demikian pula orang-orang rafidhoh.
  8. Orang-orang Yahudi membenci Malaikat Jibril dan mengatakan, “Dia (jibril) adalah musuh kami.” Demikian pula sebagian orang rafidhoh, mereka mengatakan, “Jibril keliru dalam menyampaikan wahyu kepada Muhammad.”

Orang-orang Yahudi dan Nasroni lebih utama dibanding orang-orang rafidhoh dengan dua perkara: (yaitu)
  1. Orang-orang yahudi ditanya, “Siapakah orang terbaik dari pemeluk agama kalian?” mereka menjawab, “Para sahabat Nabi Musa.” Dan orang-orang Nasroni ditanya, “siapakah orang terbaik dari pemeluk agama kalian?” mereka menjawab, “Para sahabat Nabi Isa.”
  2. Sementara orang-orang Rafidhoh ditanya, “siapakah seburuk-buruk orang dari pemeluk agama kalian?” Mereka menjawab, “Para sahabat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam”

Mereka (orang-orang rafidhoh) diperintahkan agar memintakan ampunan untuk mereka (para sahabat nabi) malah justru mencelanya. Maka pedang (pantas) dihunuskan kepada mereka hingga hari kiamat. Kaki mereka tidak akan kokoh dan panji mereka tidak akan tegak serta kalimat (persatuan) mereka tidak akan terwujud. Da’wah mereka terbatalkan dan persatuan mereka tercerai berai. Setiap kali mereka menyalakn api peperangan, maka Alloh akan selalu memadamkannya.” [Al Laalika’i (4/1461)]

Muhammad bin Subaih as Sammak berkata, “Aku telah mengetahui bahwa orang-orang Yahudi tidak mencela para sahabat Nabi Musa, dan orang-orang Nasrani tidak mencela para sahabat Nabi Isa. Maka bagaimana dengan keadaanmu wahai orang bodoh, kamu mencela para sahabat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam? Aku telah tahu dari (pintu) mana kamu datang? Dosamu tidak menyibukkan dirimu. Sekiranya kamu tersibukkan oleh dosamu, niscaya kamu akan merasa takut pada Robbmu. Sungguh termasuk dari Dosamu adalah kamu lalai dari orang-orang jahat, celakalah kamu. Bagaimana kamu tidak lalai dari (membicarakan kesalahan) orang-orang baik (yakni para sahabat)? Sekiranya kamu termasuk orang-orang baik, niscaya kamu tidak akan mencela  orang-orang berbuat kekeliruan, bahkan kamu berharap bagi mereka rahmat dari Dzat yang Maha Penyayang. Akan tetapi, (memang) kamu termasuk orang-orang buruk, maka dari itu kamu mencela para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid) dan orang-orang sholih. Wahai pencela para sahabat Nabi, sekiranya kamu tidur dimalam harimu, dan berbuka puasa di siang harimu, maka itu lebih baik bagimu daripada kamu menghidupkan malam harimu dengan qiyamul lail  dan siang harimu dengan puasa sedangkan kamu mencela orang-orang baik (para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam). Dan bergembiralah kamu dengan sesuatu yang tiada kegembiraan didalamnya, jika kamu tidak bertaubat dari apa yang kamu lihat dan dengar. Celakalah kamu! Mereka (para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam) telah dapat kemuliaan dalam perang Badr, dan mereka (juga) telah mendapatkan kemuliaan dalam perang Uhud, sebab mereka semuanya telah mendapatkan ampunan dari Alloh, sebagaimana firmanNya:

“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan Sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. (QS. Ali ‘Imron : 155)

Dan kamipun berhujjah dengan akhlaq nabi Ibrohim Kholilur Rohman (kekasih Alloh), dia berkata :

Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, Maka Barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golonganku, dan Barangsiapa yang mendurhakai Aku, Maka Sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrohim : 36)

Beliau (nabi Ibrohim) telah menawarkan ampunan bagi orang yang durhaka. Sekiranya beliau mengatakan, “sesungguhnya Engkau Maha perkasa lagi Maha Bijaksana, dan adzab-Mu adalah adzab yang pedih.” Maka berarti beliau telah menampakan sifat balas dendam (tapi bliau tidak melakukannya). Maka dengan (perbuatan) siapakah kamu berhujjah (untuk perbuatanmu) wahai orang bodoh. Sungguh seburuk-buruk kholaf (yaitu orang-orang yang datang setelah generasi salaf) adalah orang-orang yang mencela orang-orang salaf (yang sholih). Sungguh satu orang yang sholih dari generasi salafush sholih itu lebih baik dari seribu orang dari generasi Kholaf. Mereka (para sahabat nabi shollallohu ‘alaihi wasallam) telah mendapatkan ampunan dari Alloh, sebagaimana firmanNya,

Sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Qs. Ali ‘Imron : 155)

Maka apa yang akan kamu katakan kepada orang yang telah diampuni oleh Alloh? [al laalika’i: 2819]

Bantahan terhadap mereka yang menyeru kepada pendekatan sunni-syiah
Maka hendaklah orang-orang yang menyeru kepada pendekatan antara sunnah dan syiah—sebagaimana mereka sangka—Bertakwalah Kepada Alloh. Perumpamaan mereka seperti orang yang dijelaskan oleh Alloh dalam kitabNya

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),” (QS. An Nisa’ :150)

Dan disana hanya ada satu jalan dan satu golongan, yaitu golongan yang selamat, yang dimenangkan dan tampil (dengan kebenaran) hingga hari kiamat. Maka atas dasar apakah mereka (syiah dan sunnah) dapat bertemu? Mereka adalah (seperti yang digambarkan Alloh)

Mereka dalam Keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS. An Nisa’ :143)

Dan Nabi memberikan perumpamaan untuk perkataan mereka,
perumpamaan seorang munafik itu seperti seekor domba yang pulang pergi tidak jelas antara dua domba. Terkadang ia pergi ke domba ini dan terkadang ia pergi ke domba itu. Ia tidak tahu domba mana yang akan ia ikuti.” (HR. Muslim : 2784)

Ya Alloh, tampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan anugerahkanlah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami kebathilan sebagai kebathilan, dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya. Dan tunjukkilah kami kepada kebenaran dalam perkara yang di perselisihkan, dengan izinMu. Sesungguhnya Engkau menunjuki siapa saja yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.

Senin, 07 November 2011

Mendengar dan Taat


Kita telah banyak temui umat muslim di zaman ini mengaku cinta kepada Alloh dan RosulNya, tetapi ketika dikatakan kepada mereka tentang sesuatu larangan yang mereka lakukan “hal ini di larang karena Alloh berfirman.... dan Rosululloh bersabda....”  mereka akan menjawab, “tapi kata kiyai/ustadz/habib fulan itu tidak dilarang, dan bla bla bla..”. tidak sedikit justru penolakan tersebut berasal dari para orang-orang yang di anggap berilmu dinegeri ini. Kita ambil contoh tentang pengharaman Musik,

Allah Ta’ala berfirman:

z`ÏBur Ä¨$¨Z9$# `tB ÎŽtIô±tƒ uqôgs9 Ï]ƒÏysø9$# ¨@ÅÒãÏ9 `tã È@Î6y «!$# ÎŽötóÎ/ 5Où=Ïæ$ydxÏ­Gtƒur #·râèd 4 y7Í´¯»s9'ré& öNçlm; Ò>#xtã ×ûüÎgB ÇÏÈ  

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna sehingga dia menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.” (QS. Luqman: 6)

Abdullah bin Mas’ud berkata menafsirkan ‘perkataan yang tidak berguna’, “Dia -demi Allah- adalah nyanyian.” Dalam riwayat lain beliau berkata, “Itu adalah nyanyian, demin yang tidak ada sembahan yang berhak selain-Nya,” beliau mengulanginya sebanyak 3 kali.

Ini juga merupakan penafsiran dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdillah dari kalangan sahabat. Dan dari kalangan tabi’in: Ikrimah, Said bin Jubair, Mujahid, Mak-hul, Al-Hasan Al-Bashri, dan selainnya. (Lihat selengkapnya dalam Tafsir Ibnu Katsir: 3/460)
Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiallahu anhu bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Kelak akan ada sekelompok kaum dari umatku yang akan menghalalkan zina, kain sutra (bagi lelaki), khamar, dan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhari no. 5590)
Kalimat ‘akan menghalalkan’ menunjukkan bahwa keempat hal ini asalnya adalah haram, lalu mereka menghalalkannya.

Lihat pembahasan lengkap mengenai keshahihan hadits ini serta sanggahan bagi mereka yang menyatakannya sebagai hadits yang lemah, di dalam kitab Fath Al-Bari: 10/52 karya Al-Hafizh dan kitab Tahrim Alat Ath-Tharb karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.

Ketika kita sampaikan hal ini kepada saudara-saudara kita umat muslim yang gemar bermusik dan bernasyid, mereka akan menjawab, “inikan untuk dakwah, para wali aja berdakwah pake gamelan, dan kiyaiku/ustadzku/habibku bilang bla bla bla”. Allahul musta’aan

Simaklah perkataan Abdulloh bin Abbas Rodhiyallahu anhuma yang dikenal dengan julukan “Penerjernah al-Quran” dengan barokah do’a Rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam.
Ya Alloh, pahamkan dia dalam agama dan ajarilah dia tafsir” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad 1/328 dan dishohihkan sanadnya oleh Syaikh Ahmad Syakir]

lbnu Mas’ud Rodhiyallahu anhu berkata : “Sebaik-baik penerjemah al-Qur’an adalah lbnu Abbas” [Diriwayatkan oleh lbnu Jarir dalam Muqoddimah Tafsir-nya dengan sanad yang shohih]

Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata, “Hujan batu dari langit akan segera menimpa kalian. Aku katakan, ‘Rosululloh berkata demikian-demikian’, namun kalian mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata demikian’.” Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma marah karena ada yang menentang perkataan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallamdengan perkataan Abu Bakar dan Umar rodhiyallohu ‘anhuma. Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallammenginformasikan bahwa mereka berdua termasuk penghuni surga, bahkan Abu Bakar dan Umar rodhiyallohu ‘anhuma adalah orang yang paling utama di antara umat ini dan orang yang pendapat-pendapatnya lebih mendekati kebenaran. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian mentaati Abu Bakar dan Umar, kalian akan mendapat petunjuk.” (HR Muslim). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Kalian wajib mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, peganglah dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Abi Hatim, shohih)

Saudaraku kaum muslimin rohimahumulloh, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tidaklah memerintahkan suatu perkara, kecuali perkara yang murni atau rajih maslahatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya pun tidaklah melarang suatu perkara, kecuali perkara yang murni atau rajih mafsadatnya.

|#Ó|¤tãur br& (#qèdtõ3s? $\«øx© uqèdur ×Žöyz öNà6©9 ( #Ó|¤tãur br& (#q6Åsè? $\«øx© uqèdur @ŽŸ°öNä3©9 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ óOçFRr&ur Ÿw šcqßJn=÷ès? ÇËÊÏÈ  

Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqoroh:216)

Ketahuilah saudaraku seiman semoga Alloh memberikan serta meneguhkan hidayah kepada kita. Salah satu sifat orang beriman yang mencintai Alloh dan RosulNya adalah taat dan patuh terhadap perintah-perintahNya meskipun apa yang diperintahkan berat menurut hati kita.

Alloh berfirman di dalam kitab suciNya:

$yJ¯RÎ) tb%x. tAöqs% tûüÏZÏB÷sßJø9$# #sŒÎ) (#þqããߊ n<Î) «!$# ¾Ï&Î!qßuur u/ä3ósuÏ9 öNßgoY÷t/ br&(#qä9qà)tƒ $uZ÷èÏJy $uZ÷èsÛr&ur 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd tbqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÎÊÈ  

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An Nur (24) : 51)

Syaikh DR. Muhammad Sulaiman Abdulloh Al Asyqor di dalam kitabnyaZubdatul Tafsir Min Fathil Qodir, surat AnNur : 51 berkata : “Sepatanya kaum mukminin seperti ini, yaitu jika mereka mendengar seruan yang disebutkan di atas, mereka menyambutnya dengan ketaatan dan kepatuhan. Mereka mengatakan ‘kami mendengar perkataan Nabi dan kami mentaati perintahnya’. Walaupun hal itu dalam perkara yang tidak mereka sukai atau membahayakan mereka.”

Syaikh Abu bakar Jabir Al Jazairi, seorang pengajar di Masjid Nabawi, Madinah, berkata, “Yakni tidak ada perkataan yang di ucapkan oleh orang-orang yang beriman secara tulen sebenarnya,  jika mereka diseru kepada kitab Alloh dan RosulNya, agar Rosul mengadili diantara mereka, kecuali perkataan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Maka mereka menyambut seruan itu, dan tunduk kepada kebenaran.” (Aisarut Tafsir Li Kalamil ‘Aliyyil Kabir, surat An Nur:51)

Maka diantara sifat orang-orang yang beriman adalah tidak berpaling dan menolak seruan menuju Al Kitab dan As Sunnah. Tidak sebagaimana sifat orang-orang munafiq seperti yang di firmankan Alloh

#sŒÎ)ur (#þqããߊ n<Î) «!$# ¾Ï&Î!qßuur zNä3ósuŠÏ9 öNæhuZ÷t/ #sŒÎ) ×,ƒÌsù Nåk÷]ÏiB tbqàÊ̍÷èB ÇÍÑÈ  
Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (QS. An Nur (24): 48)

Orang-orang beriman tidak membantah naql (wahyu) dengan akal. Tidak sebagaimana Iblis yang menolak perintah Alloh untuk sujud kepada Adam dengan akalnya yang rusak!

tA$s% ß§ŠÎ=ö/Î*¯»tƒ $tB y7yèuZtB br& yàfó¡n@ $yJÏ9 àMø)n=yz £yuÎ/ ( |N÷Žy9õ3tGór& ÷Pr&|MZä. z`ÏB tû,Î!$yèø9$# ÇÐÎÈ   tA$s% O$tRr& ×Žöyz çm÷ZÏiB ( ÓÍ_tFø)n=yz `ÏB 9$¯R ¼çmtGø)n=yzur `ÏB&ûüÏÛ ÇÐÏÈ  

Allah berfirman: "Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) Termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Shod (38) : 75-76)

Orang-orang yang beriman juga tidak menolak Syari’at dengan alasan adat, atau dengan alasan apa yang telah dilakukan orang tua mereka. Sebagaiman mayoritas umat nabi-nabi terdahulu yang menjadikan adat dan budaya nenek moyang untuk menolak agama Alloh ta’ala.

y7Ï9ºxx.ur !$tB $uZù=yör& `ÏB y7Î=ö7s% Îû 7ptƒös% `ÏiB @ƒÉ¯R žwÎ) tA$s% !$ydqèùuŽøIãB $¯RÎ) !$tRôy`ur$tRuä!$t/#uä #n?tã 7p¨Bé& $¯RÎ)ur #n?tã NÏd̍»rO#uä šcrßtFø)B ÇËÌÈ  
Dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (QS. Az Zukhruf (43) :23)

Orang-orang yang beriman tidak menolak wahyu Alloh Yang Maha Suci karena gengsi. Tidak seperti abu tholib yang lebih memilih mati kafir –karena gengsinya- daripada mendapatkan celaan jika masuk islam!

Dari Abu Huroiroh, dia berkata, Rosululloh bersabda kepada pamannya (Abu Tholib), “Katakanlah Laa ilaaha illa Alloh, aku akan bersaksi membelamu dengan kalimat itu pada hari kiamat.” Abu Tholib menjawab, “seandainya orang-orang Quroisy tidak akan mencelaku, yaitu mereka akan mengatakan, ‘sesungguhnya yang mendorongnya (abu tholib) terhadap hal itu (mengucapkan Laa ilaaha illa Alloh) adalah kecemasan (saat sakaratil maut)’, aku akan benar-benar menyenangkanmu dengan (mengucapkan) kalimat itu.” Maka Alloh menurunkan ayat

y7¨RÎ) Ÿw ÏöksE ô`tB |Mö6t7ômr& £`Å3»s9ur ©!$# Ïöku `tB âä!$t±o 4 uqèdur ãNn=÷ær& šúïÏtFôgßJø9$$Î/ÇÎÏÈ  

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qoshshosh (28): 56) (HR. Muslim no. 25)

Orang-orang yang beriman tidak pula menolak agama karena tahta sebagaimana fir’aun

ÉQöqs)»tƒ ãNä3s9 à7ù=ßJø9$# tPöquø9$# z`ƒÌÎg»sß Îû ÇÚöF{$# `yJsù $tRçŽÝÇZtƒ .`ÏB Ä¨ù't/ «!$# bÎ) $tRuä!%y` 4tA$s% ãböqtãöÏù !$tB öNä3ƒÍé& žwÎ) !$tB 3ur& !$tBur ö/ä3ƒÏ÷dr& žwÎ) Ÿ@Î6y ÏŠ$x©§9$# ÇËÒÈ  

“(Musa berkata): "Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!" Fir'aun berkata: "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar". (QS. Al Mu’min : 29)

Orang-orang yang beriman tidak menolak agama karena harta sebagaiman Qorun

* ¨bÎ) tbr㍻s% šc%Ÿ2 `ÏB ÏQöqs% 4ÓyqãB 4Óxöt7sù öNÎgøŠn=tæ ( çm»oY÷s?#uäur z`ÏB ÎqãZä3ø9$# !$tB ¨bÎ)¼çmptÏB$xÿtB é&þqãZtGs9 Ïpt6óÁãèø9$$Î/ Í<'ré& Ío§qà)ø9$# øŒÎ) tA$s% ¼çms9 ¼çmãBöqs% Ÿw ÷ytøÿs? ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =ÏtätûüÏm̍xÿø9$# ÇÐÏÈ   Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB$u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw=Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ   tA$s% !$yJ¯RÎ) ¼çmçFÏ?ré& 4n?tã AOù=Ïæ üÏZÏã 4 öNs9urr& öNn=÷ètƒ žcr& ©!$#ôs% y7n=÷dr& `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% šÆÏB Èbrãà)ø9$# ô`tB uqèd x©r& çm÷ZÏB Zo§qè% çŽsYò2r&ur $Yè÷Hsd 4 Ÿwur ã@t«ó¡ç`tã ÞOÎgÎ/qçR茠šcqãB̍ôfßJø9$# ÇÐÑÈ  

Sesungguhnya Qarun adalah Termasuk kaum Musa, Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al Qoshosh :76-78)

Orang-orang yang beriman tidak menolak agama karena kedudukan dan kehormatan seperti para pendeta ahlu kitab
Orang-orang yang beriman juga tidak menolak agama dengan dalil perasaan, seperti kebanyakan orang-orang sufi.

Bahkan mereka menjadikan Rosululloh sebagai hakim didalam segala masalah yang mereka perselisihkan, tidak merasa keberatan terhadap keputusan beliau, dan menerimanya dengan sepenuh hati. Alloh ta’ala berfirman

Ÿxsù y7În/uur Ÿw šcqãYÏB÷sム4Ó®Lym x8qßJÅj3ysム$yJŠÏù tyfx© óOßgoY÷t/ §NèO Ÿw (#rßÅgs þÎûöNÎhÅ¡àÿRr& %[`tym $£JÏiB |MøŠŸÒs% (#qßJÏk=|¡çur $VJŠÎ=ó¡n@ ÇÏÎÈ    

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa (4) : 65)

Syaikh Abdurrohman As Sa’di berkata, “Alloh ta’ala bersumpah dengan diriNya yang Mulia, bahwa mereka (manusia) tidak beriman sehingga menjadikan Rosululloh sebagai hakim, dalam perkara yang diperselisihkan diantara mereka. Yaitu di dalam segala sesuatu yang terjadi perselisihan di dalamnya. Berbeda dengan perkara-perkara ijma’, karena perkara-perkara ini berdasarkan Alqur’an dan As sunnah (al hadits)

Kemudian tidaklah cukup menjadikan Nabi sebagai Hakim, sehingga hilang keberatan dan kesempitan dari hati mereka. Dan harus tidak ada sikap meremehkan didalam mereka menjadikan Nabi sebagai hakim.

Kemudian, tidaklah cukup menjadikan Nabi sebagai Hakim, sehingga menerima hukum beliau dengan sepenuhnya, dengan dada yang longgar, jiwa yang tentram, dan patuh lahir batin.
Maka menjadikan Nabi sebagai hakim adalah derajat islam. Sedangkan tidak adanya keberatan adalah derajat iman. Menerima sepenuhnya adalah derajat ihsan.

Barangsiapa tidak menjadikan Nabi sebagai hakim sebagaimana yang disebutkan, tidak menerima kewajiban itu, maka dia kafir. Barangsiapa yang tidak menjadikan Nabi sebagai hakim (di dalam segala perselisihan), namun dia menerima kewajiban itu, maka hukumnya sebagaimana orang-orang yang bermaksiat.” (Taisir Karimir Rohman, surat An Nisa’ : 65)

Syi’ar mereka adalah “Aku Ridho Alloh sebagai Robbku, Islam adalah agamaku, Muhammad sebagai rosulku.” Mereka tidak memilih yang selainnya.

$tBur tb%x. 9`ÏB÷sßJÏ9 Ÿwur >puZÏB÷sãB #sŒÎ) Ó|Ós% ª!$# ÿ¼ã&è!qßuur #·øBr& br& tbqä3tƒ ãNßgs9 äouŽzÏƒø:$#ô`ÏB öNÏd̍øBr& 3 `tBur ÄÈ÷ètƒ ©!$# ¼ã&s!qßuur ôs)sù ¨@|Ê Wx»n=|Ê $YZÎ7B ÇÌÏÈ  

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab (33) :36)

Hendaklah setiap kita melihat dirinya masing-masing, sudahkah ada sifat orang beriman ini pada dirinya, sehingga layak kita meraih berbagai kebaikan yang telah Alloh janjikan bagi orang yang beriman.

Wa shallallahu’ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Maroji:
Al Qur’an terjemahan
Tafsir ibnu katsir, pustaka Imam Syafi’i
“Adakah Musik Islami?”, karya Muslim Atsari, Pustaka at tibyan